Aku seorang pria dengan nama Azka Faridy. Panggil saja Azka! Dulu aku kira namaku langka. Tapi kini setelah dewasa, aku menemukan panggilan yang sama di sekitarku. Bahkan suatu waktu ada sebuah undangan datang untuk bergabung ke dalam sebuah grup Facebook yang mana semua nama penghuninya mengandung kata Azka. Jadilah aku bertemu dengan Azka-Azka lain. Meski begitu, setidaknya aku masih merasa nama itu eksklusif: belum berada di satu kelas yang mengharuskan teman-temanku menomori namaku dengan ‘Azka Pertama’ atau memberi julukan “Azka Kurus”–karena ada nama Azka lain di daftar absensi.

Oh iya barangkali aku satu di antara deretan pria pemalu dan pendiam. Aku mungkin sudah terlahir begitu. Aku lebih sering dan mungkin lebih suka berdiam diri. Aku ingin bisa bercerita dan berbicara banyak pada orang-orang di sekitarku, tapi entah kenapa mulut ini tak berkompromi, bahkan otak hanya mengeluarkan kata-kata imajinasi tak berirama yang bila dikatakan pun orang yang aku ajak bicara tak mengerti maksudnya.

Meski sudah mengetahui sifatku yang pendiam, beberapa teman tetap suka menitipkan rahasianya padaku: berkeluh kesah tentang kisah asmaranya, menceritakan tentang kehidupan keluarganya, berbagi cerita susah senangnya. Mungkin aku memang bukan pembicara yang baik, tapi mungkin aku bisa menjadi pendengar yang baik. Aku senang bila dapat mendengarkan cerita baik teman-teman. Dari cerita-cerita yang aku dengar itu bisa aku ceritakan lagi lewat lisan jari jemariku. Aku menulis untuk terus mengingat dan melawan lupa: bahwa aku pernah mendengar, bahwa aku pernah membaca, bahwa aku pernah berusaha menulis untuk tidak dilupakan oleh waktu.

 

Ketika tidak ada kata yang sanggup terucap.
Aku memilih untuk menuliskannya saja pada selembar kertas imajinasi.
Maka kapanpun kau melihatku duduk terdiam sendiri, kau melihatku sedang Menulis Dalam Diam.
 

Contact Me
Facebook: azkafaridy
Twitter: @azkafaridy
Instagram: @azkafaridy
Email: akadidi(at)gmail(dot)com