Berbincang Lebih Hangat

“Pandji siapa si, Ka?”

“Pandji manusia millenium?”

“Pandji cucunya Soeharto?”

“Pandji yang suka nangkepin uler? Emang masih hidup dia?”

“Pandji yang mana dah?”

Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul ketika saya bercerita heboh tentang satu sosok ini. Dan saya selalu menyangkal tebakan mereka semua. “Bukan. Bukan itu.”

Lalu saya mencoba mengingatkan sedikit tentang dia dengan beberapa acara TV yang membuatnya terkenal. Yang paling ampuh acara Kena Deh, “Oh dia.”

Kalau mereka masih belum kenal juga, dengan nada turun saya akan mengakhiri pembicaraan, “Ah, sudah lah.”

Pandji Pragiwaksono Wongsoyudo. Itu lah nama panjang yang saya hafal betul setelah tertarik dengan aktifitasnya. Saya memang bukan ‘pengikut’ awal artis ini. Saya baru mengikuti artis ini semenjak saya membuat akun twitter di akhir tahun 2010. Sepertinya saya langsung terhipnotis secara sadar oleh tweet-tweetnya. Dari sana saya lalu mengetahui lebih banyak tentang apa saja yang ia kerjakan, termasuk lagu-lagunya.

Saya mulai tertarik dengan lagu-lagu yang diusung olehnya. Kalau tidak salah, saya menonton talkshow pagi di O Channel (sepertinya sebelum 2010). Ada Pandji yang ditanya perihal lagu-lagunya yang mengusung tema yang tidak biasa. Waktu itu ia tidak membawakan satu lagu pun. Atau bisa jadi dibawakan tapi saya kebetulan sedang pindah channel atau malah belum masuk ke channel itu. Sejak itu saya lalu penasaran dengan lagu-lagunya. Lagu macam apa yang ia sampaikan.

Saya melakukan pencarian di situs penyedia musik gratisan langganan. Ternyata hasilnya nihil. Saya pindah ke beberapa situs penyedia musik gratis dan situs file sharing lain. Namun tetap tak ada hasil. Kesalahan saya waktu itu adalah tidak langsung mencarinya lewat Google. Hari demi hari berlalu tanpa ada upaya lanjutan mencari lagu. Terlupakan.

Namun suatu hari saya tiba-tiba teringat lagi. Saat itu Google menjadi mesin pencari utama saya. Akhirnya ketemu situs yang menyediakan lagu-lagu Pandji. Ternyata itu adalah situs pribadinya sendiri. Di sana saya mendownload lagu yang disediakan untuk didownload secara gratis. Tidak benar-benar gratis karena saya harus ‘membayar’ dengan sebuah tweet. Saat itu yang sedang hangat adalah album Merdesa.

Sejak mendengar lagu-lagunya, saya semakin penasaran. Saya semakin sering membaca blog-blognya, semakin sering membuka dan membaca tweet-tweetnya. Banyak wawasan yang bertambah: tentang pembajakan, tentang politik, tentang pemasaran, tentang pertemanan, tentang keluarga. Barangkali baru kali ini saya mengidolai artis yang memberikan wawasan lain selain karyanya itu sendiri.

Sama seperti orang lain yang mengidolai seseorang, tahap selanjutnya setelah menyukai karyanya adalah bertemu langsung. Pertama kalinya saya mencoba bertemu di Citos, kali itu saya datang untuk mengobati penasaran menonton langsung penampilan standupnya. Berikutnya saya datang untuk menonton Pandji manggung di kantor KPK, kalo ga salah acara Hari Anti Korupsi. Wah itu pertama kalinya saya tahu serunya nonton konser langsung, ya nonton Pandji manggung di gedung KPK. Sumpah keren, merinding. Biasanya cuma nyanyi ngikutin suara dari player di laptop, ini ikutan nyanyi live dan loncat-loncatan meski tidak kenal kanan kiri. Karena berangkat sendiri dan belum punya alat foto akhirnya cuma bisa nonton aja.

Kesempatan berikutnya datang pada standup spesial pertamanya di Usmar Ismail. Bahkan demi acara itu saya sempat-sempatnya bikin kaos. Barangkali itu kaos Wongsoyudan (unofficial) pertama. Hehe Tapi sayang sepertinya malam itu terlalu ramai untuk bertemu dan minta berfoto langsung. Belum lagi, karena saya membawa teman, tidak enak untuk mengajaknya menunggu agak lama.

BTT

Di Usmar Ismail Hall – Bhinneka Tunggal Tawa

Pertemuan berikutnya terjadi di Plaza Semanggi. Waktu itu saya termasuk salah satu yang dapat kesempatan buat nonton bareng DVD #BhinnekaTunggalTawa sebelum dirilis. Waktu itu rasanya senang sekali dapat Direct Message dari artis idola. Tahapannya lebih tinggi dari dibales mention saja, meskipun tidak bisa bales DM balik. Lagi-lagi belum bisa foto bareng. Hanya bisa menjabat tangan saja. Sampai sini tahap untuk bertemu langsung selesai.

Direct Message Nonbar DVD BTT

DM Nonbar DVD BTT

Setelah beberapa pertemuan tanpa bukti foto, akhirnya ada juga pertemuan yang sempat diabadikan. Satu tahun setelah Bhinneka Tunggal Tawa saya berkesempatan lagi datang di acara spesialnya yang kedua (INDONESIA:). Baru saja pulang dari tanah suci dan sempat khawatir tidak dapat tiket. Karena adik saya yang saya titipi untuk rebutan tiket di tahap pertama, ternyata tidak berhasil. Tapi akhirnya dapat tiket terusan, lemparan dari tahap pertama yang gagal menyelesaikan pembayarannya. Waktu itu juga agak dilema, baru pulang dari tanah suci tapi langsung nonton konser musik. Di kepala saya waktu itu, “Pahalanya langsung gugur ga ya?” hehe. Karena niat nonton yang terlalu besar akhirnya dilanjutkan saja niatnya. Bismillah.

Minta tanda tangan di buku dan tiket

Minta tanda tangan di buku dan tiket

Sepertinya tahap berikutnya sudah terlalu tinggi. Saya sampai pada tahap ingin membuat skripsi dengan membawa tema Pandji. Karena saya mahasiswa IT, ceritanya saya ingin membuat aplikasi tentang Pandji yang memuat segala karya yang ia miliki. Singkatnya saya meminta persetujuan dosen pembimbing dan seperti yang sudah-sudah salah satu pertanyaan di awal tadi muncul lagi. Akhirnya dengan berbagai penjelasan dan argumentasi, dosen menyetujui.

Saya lalu mengirim email ke manajemen Pandji. Senangnya email itu dapat balasan. Intinya email itu sudah di-forward ke Pandji dan manajemen bertanya kapan mau bertemu. Saya membalas dan menjawab kapan saya bisa bertemu. Namun hampir 2 minggu tidak ada email balasan lagi. Lalu saya memutuskan untuk datang ke Twivate Concert bulan Mei sekalian menagih. Selesai acara saya lalu langsung menghampiri Pandji dan menjelaskan tentang email itu. Ternyata ia tahu nama saya. Bodohnya saya tidak mengiyakan ketika disuruh menunggu sampai ia selesai menyalami semua yang hadir. Dan memutuskan mencari waktu lain sembari menunggu manajemen mengatur waktunya.

Namun setelah itu ternyata masalah muncul. Dosen meminta untuk mempertimbangkan lagi judul saya. Saya masih mencoba mempertahankan judul itu, tapi ternyata saya harus mengalah. Email balasan dari manajemen Pandji yang tak kunjung datang dan dosen pembimbing yang tidak setuju, dengan berat hati mengakhiri cerita tentang mengangkat skripsi tentang Pandji.

Tapi pertemuan pada Twivate Concert malam itu lebih berkesan lagi, karena sudah sedikit berhasil ngobrol meski sebentar.

to setelah Twivate Concert Mei” width=”201″ height=”300″ /> Foto setelah Twivate Concert MeiPertemuan terakhir terjadi di spesialnya Pandji yang ketiga, Mesakke Bangsaku Jakarta. Malam itu senang karena bisa terus-terusan ada di tiga kali puncak spesialnya dan menjadi salah satu saksi pendengar kalimat-kalimat penutup yang tidak diduga-duga sebelumnya. Itu adalah standup spesial yang paling berkelas diantara dua lainnya, karena tiketnya yang juga di atas normal. Hehe Tapi di antara tiga spesialnya saya masih tetap suka yang pertama, Bhinneka Tunggal Tawa. Entah, tawa saya sepertinya lebih banyak lepas di sana.

Mesakke Bangsaku Jakarta

Mesakke Bangsaku Jakarta

Sampai di sini sebenarnya semua tahap sebagai seorang manusia biasa yang mengidolai seseorang sudah pernah terlewati: bertemu langsung, berjabat tangan, ngobrol. Namun masih satu harapan saya–berharap pertemuan-pertemuan setelah ini tidak hanya sekedar bertemu lebih dekat lagi tapi juga bisa berbincang lebih hangat. 😀

#BalasDi18

Leave a Reply