Bersabarlah

Untukmu yang sedang aku tuliskan namanya pada batu yang ku sembunyikan sebelumnya. Yang perlahan mulai aku keluarkan dari kotak besi di suatu sudut hatiku.

Hari-hari yang mencari-cari kata, minggu-minggu yang menyambungkan rasa, bulan-bulan yang menguatkan asa–Melayukan ragu. Lingkaran itu mengikat juga di jarimu. Ibuku melakukannya untukku.

Masih tak ku biarkan tangan yang ingin menggenggam, mata yang ingin selalu bertemu, langkah kaki yang ingin berjalan beriringan.

Biarkan saja begini. Sampai detik waktu itu datang. Sampai debar di dada semakin kencang, sampai malu memerahkan wajah.

Bersembunyilah sejenak di balik jubah putihmu itu. Biarkan kamu menjadi tanda tanya bagi yang bertanya. Menjadi senyap bagi malam yang gelap. Menjadi potongan teka-teki bagi yang menyelidik. Menjadi lembar rahasia bagi yang membaca.

Bertahanlah.

Tak lama. Sebentar lagi.

Bersabarlah.

Leave a Reply