Pulang Tak Tenang

Ada banyak hambatan yang saya temui hari ini. Oh tidak deng, barangkali ini sekedar tanda-tanda–yang menambah pikiran tak tenang.

Ketika memulai menulis ini saya sedang menunggu kereta yang akan membawa saya ‘pulang’ di stasiun Lamongan. Jam di handphone saya menunjukkan pukul 15.30, 30 menit sebelum keberangkatan.

Ada dua misi utama pulang kali ini, Mengikuti pelatihan di Darunnajah dan menghadiri pernikahan teman.

Oke, saya mulai dari pelatihan. Berawal dari Pak Kyai yang mendapat pesan di grup pondok alumni Gontor, berisi info mengenai Pelatihan Optimalisasi Website dan Sosial Media Pesantren yang diselenggarakan oleh Ponpes Darunnajah Jakarta. Pelatihan itu sudah berlangsung, namun dibuka pendaftaran untuk Gelombang 2 dan 3. Beberapa ustadz berpendapat, tidak perlu karena mungkin kita sudah cukup mengerti. Tapi pak kyai punya alasan lain, “Kalau mungkin sudah mengerti, ya berarti untuk ‘berteman’.” Begitu lah kira-kira, saya tak begitu hafal pasti perkataannya.

Untuk pelatihan ini beliau dan salah satu ustadz mengusulkan saya. “Sekalian pulang,” kata ustadz itu. Pertama kali saya tahu perihal pelatihan ini, tadinya memang sepertinya tak begitu perlu meski di lain sisi sejalan dengan pembuatan beberapa sosial media Al-Ishlah baru-baru ini. Tapi ada alasan lain yang membuat hati kecil saya tegas berbisik, “harus ikut, Ka.”

Ayah saya dulu pernah mengajar di Darunnajah. Ibu saya dulu sekolah di sana. Bahkan sampai saat ini, setiap lebaran di rumah pasti kebagian satu kardus besar penuh dengan parsel. Entah sejak tahun berapa, ayah saya tak mengajar lagi di sana. Melanjutkan pekerjaannya di kantor Atase Agama Saudi. Saya masih ingat betul, ketika masih kecil, sering kali diajak ke Darunnajah. Mengikuti kajian, atau sekedar silaturahim. Jadi Darunnajah sudah tak asing lagi dalam kamus saya. Selain mungkin ayah dan ibu yang dipertemukan di sana. Setelah ayah meninggal, saya sempat ditawari untuk disekolahkan di sana. Tapi entah kenapa tak diiyakan ibu.

Barangkali ini lah yang paling membuat penasaran saya untuk ikut pelatihan ini: bertemu dan bersilaturahim dengan orang-orang yang kenal ayah. Melanjutkan lagi menguntai tali yang sempat terhenti. Sebetulnya tidak yakin bisa ‘berani’ ketemu orang-orang ini. Karena memang dasar lelaki pemalu saja. Hehe

Tapi patut dicoba, saya merasakan ada sepotong keberanian yang tak biasa yang sudah siap-siap untuk menyulut api keberanian lainnya. Berharap benar-benar menyala ketika di sana.

‘Berteman’ dan ‘Silaturahim’, dua hal yang tepat membangun alasan untuk berangkat. Tidak hanya atas nama individu, tapi juga keluarga dan pasti Al-Ishlah.

Pengajuan pendaftaran untuk mengikuti pelatihan ini sudah jauh-jauh hari. “Baik ustadz, kami daftarkan, nanti kami infokan kembali,” begitu balasan pihak panitia.

Tidak lama setelah mendaftar saya mendapatkan kabar baik lain dari dua teman kuliah, mereka akan menikah. Berpacaran mulai pertengahan kuliah, putus di tahun akhir kuliah, ketika sudah bekerja nyambung lagi, dan sekarang mantap memutuskan menikah. Tanggalnya beberapa hari setelah tanggal pelatihan selesai. Juga salah satu teman kuliah lain (katanya) mengadakan resepsi pernikahannya di Jakarta satu hari sebelumnya. Saya tersenyum. Wah ini. Pas sekali.

Lama tak ada kabar dari panitia, saya mengirim pesan tanya. Kemudian dibalas dengan nama-nama peserta gelombang 2 dan 3. Ternyata tidak ada nama Al-Ishlah. Katanya lupa tidak tercatat, handphone si panitia bermasalah. Saya mengajukan pendaftaran lagi. Karena gelombang 2 sudah memenuhi kuota, saya harus ikut gelombang 3, alias bulan berikutnya.

Deg!

Saat itu saya benar-benar bingung, tak tenang. Kemungkinan untuk datang di pernikahan teman pasti gugur. Izin untuk pulang hanya untuk alasan nikah terlalu lemah. Karena awal tahun kemarin sudah dua kali izin pulang atas nama datang di pernikahan.

Saya memohon untuk bisa ikut di gelombang 2. Panitia memberitahu bahwa ini nanti akan ditanyakan. Berhari-hari tak ada balasan (lagi). Saya bertanya lagi. Ternyata tidak bisa ikut gelombang 2. Semakin tak tenang. Ditambah urusan-urusan di minggu itu masih belum selesai. Sepertinya memang harus ikut gelombang 3. Baiklah.

Tapi beberapa hari setelahnya saya mencoba lagi menanyakan. Berharap ada kesempatan lain. Kali ini saya bertanya untuk memastikan apakah yang di daftar gelombang 2 bukan Al-Islah Kebumen, melainkan Al-Ishlah Sendang. Ternyata memang bukan Al-Ishlah Sendang. Namun dia mengabari bahwa ada salah satu peserta yang minta untuk dipindah ke gelombang 3. Nah!

Lagi-lagi dibalas dengan “nanti kami infokan lagi.” Saya ragu akan balasan yang cepat. Sementara hitungan hari sampai tanggal pelatihan semakin sedikit. Sesekali mengecek kesediaan tiket kereta. Untungnya masih ada. Beberapa hari berlalu, belum ada balasan juga. Niatnya ingin pihak sana yang mengirim info dulu, karena tidak enak hati selalu bertanya sedari kemarin. Tapi akhirnya karena tidak tahan, saya bertanya juga. Jum’at pagi kemarin, saya diberitahu ternyata bisa masuk gelombang 2. Saya tidak tahu apakah karena saya yang terlalu banyak tanya kemudian akhirnya dimasukkan supaya tidak banyak tanya lagi, atau karena memang bisa karena menggantikan peserta yang tadi. Kepikiran tapi ya juga masa bodoh, yang penting akhirnya bisa ikutan. Hehe

Singkat cerita akhirnya langsung beli tiket untuk hari Minggu sore yang sampai Jakarta jam 3 pagi, masih cukup untuk mengejar pembukaan pelatihan Senin jam 7 pagi.

‘Tanda’ pertama muncul di sini. Setelah Jum’atan dikirimi jadwal acaranya, agenda dimulai Minggu malam. Waduh. Terlanjur beli tiket. Tiket itu tanpa pikir panjang langsung dibeli karena satu-satunya tiket yang tersisa di kereta itu pada hari itu. Ternyata harus datang hari sebelumnya.

Setelah meminta saran sana sini, akhirnya beli tiket yang baru untuk hari Sabtu sore. Setelah browsing dan menurut pengalaman salah satu teman ternyata tiket bisa dibatalkan dengan potongan 25%. Okelah daripada tidak.

‘Tanda kedua’ adalah pakaian untuk dibawa masih terendam tak berdaya di bak cucian. Walhasil kemarin kejar setoran cucian. Dan untungnya tadi sebelum berangkat, beberapa sudah bisa ‘dipanen’.

Karena berangkat maju satu hari, jadinya tidak bisa membawa serta lembar jawaban ujian semester pelajaran yang baru tadi diujikan– ‘Tanda ketiga’.

Tanda berikutnya, niat awalnya saya ingin diantar saja. Biar tidak lama-lama menganggurkan sepeda motor di penitipan, dan lebih baik dipakai di pondok. Ada salah satu teman ustadz bersedia mengantar, tapi tidak jadi karena ada kuliah siang. Lalu tadi pagi ada yang bersedia mengantarkan, tapi siang sebelum berangkat, meminta maaf tidak bisa juga mengantar.

Ah!

Panik. Bingung. Biasanya kalo begini pasti pikiran sudah tidak tahu kemana. Benar saja. Ketika ujian dimulai, saya mengumumkan pembetulan kesalahan soal untuk sesi pertama. Ternyata pelajaran yang saya umumkan adalah sesi kedua. Haha Sampai detik ini kalau inget itu, di hati ngomong sambil ketawa “Goblok, Ka. Goblok.”

Ya sudahlah. Akhirnya saya meminta solusi lagi. “Ya udah bawa saja, motornya.” (Baca: motor pondok) Tapi saya masih ragu membawanya, karena pasti dipakai beliau. Masih bingung, belum bisa memutuskan, sementara saya harus mengejar waktu untuk ke stasiun.

Saya meminta solusi ke beberapa ustadz. “Pakai motor saya saja!” salah satu ustadz lain menawarkan motornya. Entah kenapa saya langsung menjawab iya. Mungkin karena saya tahu beliau punya dua motor. Kami langsung mengambilnya dan sebentar memanasi motornya. Tak lama setelah itu saya berangkat ke stasiun.

Di perjalanan saya mikir macam-macam, kacau–karena kejadian-kejadian tadi. Di satu sisi saya sadar pikiran sedang kacau, sisi lainnya menyadarkan lagi bahwa saya sedang mengendarai motor: takut datang ‘tanda’ lain di perjalanan. Tapi alhamdulillah sampai juga di stasiun.

Saya langsung menukar tiket di loket. Dan mendapati bahwa tiket hanya bisa dibatalkan di stasiun tertentu. Ah! Saya mengungkapkan bahwa teman saya sebelumnya pernah membatalkan tiketnya di stasiun itu. Si petugas loket tetap kekeuh bilang tidak bisa. Tak mau menambah pusing, saya langsung mengambil tiket fisik yang sudah ditukar dan beranjak menjauhi loket. Sebelum duduk menunggu saya membeli minuman dingin, berharap menyegarkan pikiran.

Sampai titik ini saya menyadari bahwa sepertinya saya terlalu memaksa berangkat. Meninggalkan tugas-tugas yang belum selesai. Meski akhirnya bisa pulang cukup lama. Saya ingat salah satu ustadz berkata ketika tahu akhirnya bisa ikut gelombang 2. “Diperbaiki niatnya.” Deg! Betul sekali, kepulangan ini tujuan awalnya adalah mewakili pondok untuk mengikuti pelatihan, bukan pulang untuk menghadiri pernikahan teman atau santai-santai di rumah.

Saya mendapat pelajaran lagi dari ustadz-ustadz ini. Menampar keegoan diri ini yang terlalu besar. Menyadarkan lagi, bahwa sudah banyak orang-orang yang membantu saya sampai sini. Saya mengambil kesimpulan bahwa pasti ada orang-orang baik di sekitar kita yang akan membantu kita. Maka kita juga harus membantu balik mereka atau yang lain. Meski terkadang yang akan membantu kita bukanlah orang-orang yang pernah kita bantu.

Mudah-mudahan pulang kali ini tidak sesuai dengan judul tulisan ini: ‘Pulang Tak Tenang’. 😀

 

***
Stasiun Lamongan, 19 Maret 2016.

Stasiun Lamongan

Kereta datang menjemput. Stasiun Lamongan.

3 Comments

  • Evy March 22, 2016 Reply

    Stasiun Lamongan kota kah..? Sahabat dekat saya kerja d KAI, dan kebetulan diposisikan disana. Tau gitu bisa bantu.. Karna memang tiket KAI jarak jauh apalagi lintas DAOP bisa ditukar dg pengembalian uang 75%. Tapi kadang ada petugas yg seenaknya sendiri ga mau ambil pusing, kalo itu sempet dilaporkan pasti dapt teguran keras, karna mengganggu kenyamanan cutomer..

    • akadidi March 22, 2016 Reply

      Iya Lamongan kota. Loh beneran bisa ta? Kemarin yang ngelayanin perempuan dua2nya. Bilang ga bisa.

      • Evy April 7, 2016 Reply

        Iya mas, bisa kok..

Leave a Reply