Pulang

PULANG

Enam tahun bukan sekedar hari-hari yang berulang.
Atau urutan angka dan foto kalender yang berganti.
Enam tahun bukan sekedar raga yang semakin menjulang.
Bukan pula tentang hitungan uang yang terkadang hadir membebani.

Tapi enam tahun adalah detik-detik yang memiliki arti.
Yang tak ingin kau lepaskan sedetik pun ingatan tentangnya.
Enam tahun adalah bit-bit memori yang terisi penuh kenangan.
Semacam kerinduan yang kan kau rasakan nanti.

Kini saatnya untuk pergi. Meninggalkan segala hal yang harus tetap tinggal. Kamar-kamar yang penuh sesak, deretan kamar mandi yang selalu saja kumuh meski setiap minggu dibersihkan, meja-meja kelas yang menjadi bantal paling empuk untuk memejamkan mata, lemari-lemari yang sudah bolong sana sini dan entah sudah berapa kunci bergantian menjaganya.

Tapi sungguh kau tidak benar-benar pergi. Kau masih akan kembali untuk mengambil sisa-sisa kenangan yang belum sempat dibawa, untuk menyampaikan maaf atas penyesalan yang baru disadari, untuk memecah celengan rindu yang dipendam lama sejak kau pergi, untuk berterimakasih atas segala yang kau dapatkan dan mempengaruhi hidupmu.

Kini saatnya untuk pulang. Kembali meramaikan rumah yang selalu sepi, merebahkan badan di kamar yang berdebu lama tidak ditempati, berbincang dengan ibu dan ayah lebih dekat dan lama tanpa harus mengantri, kembali menjadi anggota yang bukan lagi sekedar nama pada kartu keluarga.

Tapi sungguh kau tidak benar-benar pulang. Kau akan pergi lagi ke tempat yang baru kau kenal, pergi meninggalkan kamar nyamanmu untuk menempati kamar sewaan murah yang rawan pencurian, pergi meneruskan pelajaran yang entah bisa kau tinggal bermimpi atau tidak seperti biasanya, pergi lagi membiarkan ibumu sendiri yang lagi-lagi akan merelakanmu meski ia ingin kau ada di sisinya.

Tapi biarlah. Itu semua memang tentang waktu yang harus tetap berjalan. Ikuti dan nikmati saja alunan detak jarumnya. Biarkan berputar merekam setiap putaran kisahmu.

Ini juga tentang anak tangga. Setiap langkah akan menaikkan setiap derajat: menaikkan rasa bangga karena bisa berada di atas dan juga menaikkan rasa takutmu akan jatuh dari tempat tinggi.

Sungguh kau tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada waktu dan anak tangga yang belum kau lihat. Yang bisa kau lakukan adalah bersiap-siap dan mawas diri. Hati-hati bila waktu sedang kalap. Berbaik-baiklah dengannya agar ia juga memberi kebaikan padamu.

Tabik!

IMG_20150419_061617

***
Semacam tulisan abstrak untuk teman-teman santri tingkat akhir yang baru saja menyelesaikan rentetan ujian akhir, yang sudah bisa meninggalkan asrama untuk kembali pulang ke rumah masing-masing.

One Comments

Leave a Reply