Selamat Ulang Tahun, Jouda!

Teruntuk Jouda lil Fathir

Jouda, namamu seperti plesetan dari salah satu nama kota di Arab Saudi—kota dimana ibumu tinggal untuk beristirahat setelah bekerja melayani penumpang di pesawat. Bisa jadi itu inspirasinya dan juga ayahmu. Tapi sepertinya bukan itu sebab musabab namamu. Kata ayahmu, namamu berasal dari kata Jaudah yang berarti “indah” dalam Bahasa Arab.

Oh ya kenalkan aku ini pamanmu—saudara sepupu ibumu. Ayahku dan nenekmu saudara kandung. Ibu dan ayahmu mungkin mengenalkanku padamu dengan ‘Mang Aka’ karena ibuku mengalirkan darah sundanya padaku. Tapi kamu bebas memanggilku apa. Semaumu. Sesukamu.

Kita tidak pernah benar-benar bertemu. Mungkin sesekali waktu ibumu mampir beristirahat ke rumahku, ketika ayahmu masih tinggal di rumahku setelah menikah dengan ibumu. Itu pun pertemuan kita terhalang oleh perut ibumu. Kamu masih nyenyak tertidur di rahim ibumu. Pun setelah kamu lahir ke dunia, aku belum sekalipun menjengukmu. Belum juga menghadiahkan kado apa pun atas kelahiranmu. Aku bahkan lupa pernah mengucapkan selamat atas kelahiranmu atau belum. Ah paman macam apa aku ini. Belum bertemu saja sudah bersalah padamu.

Jouda, setelah kamu lahir aku hanya mengenalmu dari grup Whatsapp keluarga. Aku melihat bukti foto kenakalanmu yang mengacak-acak barang dagangan di toko. Aku menyaksikan video rekamanmu menangis menjerit di pelukan nenekmu—entah atas alasan apa kamu menangis  Aku juga mendengar tentang kelucuanmu: tentang nyanyianmu, tentang jogetmu, tentang tidurmu, tentang apa pun yang membuat ayah ibumu senang bila mendengarnya. Maklum mereka terlalu jauh untuk bisa langsung memegang tanganmu, menuntun langkah kakimu, membangunkan jatuhmu, memperbaiki tarianmu, mendengarkan nyanyianmu, menggendong tubuhmu. Tapi aku yakin mereka tak menjadikan batas layar kaca sebagai penghalang doa mereka untukmu.

Jouda, aku yakin kamu sudah mengenal siapa ayah dan ibumu sebenarnya. Ayah ibumu bukan mbak, mas, bude, pakde, atau bukan pula nenek yang kau panggil nyi di rumah sana yang sering mengasuhmu. Ibumu dulu sempat sangat khawatir, kalau-kalau kamu tak mengenalinya yang telah mengandungmu, yang melahirkanmu. Untuk mendapatkanmu saja ayah dan ibumu harus bersabar menunggu 2 tahun sampai akhirnya titik kehidupanmu terlihat di rahimnya. Kekhawatirannya memang wajar. Tapi seiring beranjaknya usia kamu pasti mengenal ayah ibumu. Buktinya sekarang kamu bisa menjawab ketika ditanya “ibu dan ayah dimana?” Meski terkadang ketika mereka pulang mengunjungimu, ayahmu masih sering kau acuhkan. Tapi aku tahu ia tak kan menyerah untuk membuatmu mengenalnya. Suatu saat kamu akan dibuatnya selalu membutuhkan bimbingan dan nasihatnya.

Aku terkadang memikirkanmu, Jou. Sedari kecil sudah ditinggal Ayah Ibu yang bekerja jauh darimu. Ayahmu sudah terlanjur suka dengan pekerjaannya di Jakarta karena sesuai dengan pendidikannya. Ibumu selepas kuliah diterima di salah satu maskapai penerbangan asal negeri minyak sana. Tugasnya ini lah yang mengharuskannya menetap di luar Indonesia. Oh iya nanti kamu bisa kapan-kapan merengek ibumu untuk diajak naik pesawat itu. Bila tidak diajak, menangislah, Jou! Menangislah!

Ayah Ibumu bukan tak menginginkan tinggal bersamamu. Justru mereka sangat ingin sekali. Meski aku belum merasakan menjadi orangtua, tapi aku sedikit tahu apa yang menjadi pertimbangan mereka. Tak usah bersedih, Jou. Kamu hanya perlu bersabar menunggu. Karena mereka pun sedang berikhtiar: menunggu kemungkinan terbaik agar tak datang di waktu yang salah.

Kini usiamu sudah menginjak 3 tahun dan aku masih belum menjabat tangan kecilmu. Oh iya tepat kemarin kamu berulang tahun. Ah bahkan aku lupa mengucapkan selamat padamu. Bulan kelahiran kita sama, Jou. Aku sepuluh hari lebih dulu darimu. Tapi jelas terpaut tahun jauh. Barangkali nanti, entah kapan, kita bisa merayakannya bersama. Atau ketika tanggalku datang lebih dahulu, bisa menjadi alarm pengingatku untuk menyiapkan sebuah kado untukmu. Namun bila tidak, izinkan aku mengirimkan kadonya saja lewat bait-bait doa.

Andai kamu sudah bisa baca, Jou. Kamu akan membaca tulisanku ini sendiri. Atau mintalah Ayah, Ibu, atau bibi-bibimu ‘mendongengkan’ ini untukmu. Kalau tidak, sah saja bagiku bila kamu ingin membacanya sendiri nanti saat kamu dewasa. Aku berharap bila saat itu tiba, kita sudah pernah bertemu sebelumnya dan mungkin akrab—hingga aku akan dibuatmu malu ketika kamu menyodorkan tulisan ini lagi padaku.

Jou, aku sangat berharap kita bertemu dalam waktu dekat. Walau untuk sekedar menyalami tanganmu. Mungkin kita bisa bercanda, bermain, atau apa pun. Tapi maaf bila momen itu tiba, justru aku malah terdiam malu tak bicara. Aku memang begitu lelaki dewasa pemalu yang hanya berani berbicara lewat tulisan.

Mungkin untuk saat ini aku hanya sanggup menuliskan ini. Sebuah surat perkenalan yang aku sadari betul kamu tak kan membacanya sekarang. Setidaknya aku hanya ingin menuliskannya saja agar dibaca oleh orang lain–yang sudah dan yang akan mengenalmu. Berharap orang lain juga suka padamu.

Sampai bertemu di dunia nyata, Jou. Salam kenal dan selamat ulang tahun, Jouda! 😀

IMG-20140530-WA0000

~Nastamir fii waqtin akhor~

 

Leave a Reply